Wednesday, November 30, 2016

Puisi Entah karya Endah Ayunda

ENTAH
Oleh Endah Ayunda

Ada sesak yang kian hari menguji sabarku
Ada setitik air jenuh yang sewaktu-waktu siap menerobos celah sempit dimata ku
Ada ganjalan besar yang kian hari tidak tau akan berkurang atau bertambah besar
Ada hati yang terbalut karena sesuatu yang tidak akan pernah sanggup untuk dijelaskan

Memang tidak mudah,
sangat tidak mudah,
Berdiri tegak, berjalan sempurna, berlari hebat
Hal yang menyakitkan bagi ku

Entah, selalu kata entah yang terlintas dalam semua bayang-bayang ini
entah apa yang aku rasa, entah apa yang terjadi dan entah apa yang menyebabkan semuanya begini

Terkadang memang sulit, hati yang menangis walau air mata terasa sudah habis
kaki yang harus tetap berjalan walau daya tak mampu menggerakan

Entah..
Apa yang ku rasakan
Entah..
apa lagi yang harus aku tuliskan
Terkadang sesuatu yang dianggap sulit akan berubah begitu cepat menjadi lebih mudah
Huufftt..
Akan ku syukuri apa yang tengah ku rasakan kemarin, kini dan nanti.
Untuk semua, untuk mereka dan untuk diri ku sendiri :)

Puisi Sang Merpati Karya Tria Regis Lindy

SANG MERPATI
Oleh Tria Regia Lindy

Lihatlah bagaimana bidadari bersayap putih itu memecahkan telur-telur dalam sarang…
Dalam selimut kehangatan sang jantan…
Sarang-sarang yang berdiri kokoh atas dasar persatuan dan kasih sayang…
Terbanglah engkau wahai sayap-sayap kebebasan
Terbanglah… hingga langit tertinggi menggapai mimpi-mimpi…
Namun tetaplah kembali
Kembali pulang dalam sarang…
Sarang-sarang kasih sayang…

Lihatlah sang betina dalam sarang…
Melepas sang jantan mencari nafkah dikelilingi sayap-sayap cantik nan menawan…
Namun jantan, tetap pulang pada bidadari dalam sarang…
Dan lihatlah…
Kehangatan tiada tara ketika sang jantan pulang lalu bertalu-talu merayu…
Betina pun tertunduk malu…

Wahai sayap-sayap putih
Tetaplah terbang menaburkan benih-benih kesetiaan suci nan abadi…
Taburkanlah kesetiaanmu itu pada kaum adam hawa di bumi ini…

Wahai sayap-sayap tanpa kepahitan empedu…
Sayap-sayap putih tanpa dendam…
Sayap-sayap bertanggung jawab tanpa ingkar janji…
Bukalah mata hati kami…

Wahai kaki-kaki yang berpijak di muka bumi
Tetaplah berkawan pada merpati…
Bersama dalam satu hati
Merangkai mimpi-mimpi…
Wahai insan-insan sejati
Tetaplah saling memahami, berbagi, menghargai…
Laksana sang merpati…

Thursday, November 3, 2016

Kumpulan puisi Idris Wahid

Puisi-puisi Idris Wahid

Sajak Para Malaikat

Puisi yang belum selesai, kini membangunkan aku dari mimpi hidup,
ia menemui malaikat Rahman agar segera menancapkan kembali kesadaranku,
ia menghadap malaikat Rahim agar bergegas mengadzaniku.
Ia bentak-bentak para pengawal ruang sadarku, ia  maki-maki para ksatria jiwaku.
seakan ia tak rela jika tinta ini habis sebelum masanya, ia tak mengijinkan kertas ini sobek
sebelum liurku mengendap atas namanya.
Tetapi ia tak murka, semurka maunya, tetapi ia tak menangis semiris keluhnya.
Silahkan Kekasih membongkar wajah kemalasyan ini,
Cobalah jebol pagar pembatas kesungguhan ini. Sampai ada lubang untuk aku biacara

Universitas TIM Cikini

Nyanyian Kenangan

Siapa sangka kalau kita sudah merdeka
Satu abad rasanya
Kebangkitan Nasional dikenang dilayar lebar
Namun siapa nyana
Jika sekedar tema seminar, workshop
Atau bahkan simposium kebangsaan

Siapa bilang negeri kita loyo,

Kebangkitan ultra nasional
Perayaan semangat juang
Selebrasi kaum TNI-POLRI
Bertumpah ruah di negeri ini

Siapa sangka air mata leluhur
Menjadi menu ice jus dan batagor
Disajikan lengkap pernak-pernik bangsawan
Berharap bisa nyapres tahun depan

Siapa bilang negeri ini hina,

Dengan latar kraton Jawa
Kepongahan sang begawan
Menjelma betebar roh-roh
Kemengahan singgasana

Siapa bilang negeri ini miskin,

Emang kalian tak ngerti
Kalau kita ini gemah ripah loh jinawi
Menjadi platform Indonesia sejati
Meskipun dalam mimpi

Bukit Bintang, Malaysia/2010

Jejak

Nasehat Untuk “terkasih”
Diayun ayun dengan cara apa lagi, agar kekasih sanggup menanti
Selendang iradzah itu menempel diranum wajah tanpa lelah,
Harus dengan cara apa lagi, agar kekasih sungguh terkasih.
Sementara ratusan, bahkan puluah ribu mata meminta jawab tanpa tanya
Memejamkan hati untuk meniadakan rasionalitasnya
Kekasih,
Kau jangan ikut mengumpat.
Sebab kata adalah jaminan pintu selamat
Kau jangan ikut berserak
Sebab  perceraian menyumbat rahmat yang sebentar lagi mampir
Kekasih,
Sudah sediakan saja tempayan cintamu untuk sarapan kita kelak
Akupun sudah rindu dengan pagi yang selalu kau temani
Ini bukan rayuan ataupun bualan lelaki masa kini,
Ini juga bukan permintaan, melainkan keharusan Adamiyah

PBNU, 2012

Berdirilah

Aku berlari diatas bara
yang terbuat dari fatwa dan sejarah
riuh angin fajar
mendesir embun dedaun Tuhan

Aku berendam di Pasir Sungai
Merindu pesakitan akal
Liur darah hidup menyelinap sepi
selalu kunanti dan kurengkuh sendiri

musola pbnu, 2012

Nihayah

aku bertutur pada rimba nihayahku
menyandarkan lelah usai pengembaraan
aku berjejal disemak persemayaman
sekadar mengumam senyum diperbatasan

Nyanyian Sebrang

sudah sampai waktunya
cendawan madu mengulurkan layurnya
berbatas resah diatap basah


Indahnya Kerudung

Kerudung yang kubawakan untukmu, Sayangku
Masih hafalkah warnanya
Sarung sutra yang kau pinjamkan untukku, Sayangku
Masih kusimpan dalam kenangnya
Rukoh yang kau titipkan padaku, kekasihku
Masih tertata rapih sedia kala
Bahkan sesekali tetangga meminjamnya

Pada sore yang binar
Aku melihatmu telanjang bulat
Memakan senja seolah petang menjemput
Moleknya tubuh hawa

Semangat yang aku titipkanpadamu, Sayangku
Masihkah kau jaga untukku
Masihkah kau memimpi menjadi aku
Sudahlah sayangku bangun dari tidurmu

Perawan itu aku jaga
Melebihi perjakaku
Nafsumu aku bungkam
Dengan nafsu cita desaku

Bangkok, Thailand/ 2010

Sekolah Asal-Asalan

Bapak guru yang terhormat
Aku memang banyak tingkah
Tapi aslinya khidmat
Ajukan konsep perubahan
Berdalih investasi masa depan
Ujung-ujungnya sich bantuan finansial

Bapak guru yang tercinta
Program dan kebjikanmu numpuk
Berjejal menghiasi lantai marmer
Layaknya kantor kementerian

Ambisimu sibuk
Dengarkan khotbah para tetangga
Investor asing siap membeli gedung kita

Kualitas murid itu nomor dua
yang utama itu bantuan selalu ada
kualitas guru itu nomor tiga
yang penting itu status sekolahannya

Pasar Bugis, Singapure/2010

Pasrah

Aku hanya bisa
Jadi hinaan yang
Sederhana

Maka aku bertaut
Bersama fitnahnya

Memungkinkan
Atau tidaknya

Memang demikian adanya

Hat-Yai, Thailand 2010

Puisi surat cinta dari sangkakala

Surat Cinta Dari Sangkakala
Pengarang: Acep Syahril

Ya Allah
telah kami terima surat cintamu
tertanggal hari ini yang dikirim peniup
seruling sejati diantara kealfaan dan
keasyik masyukkan kami surat cinta yang
engkau tulis dengan tinta biru sebagai
tanda kasih dan maha sayangmu surat cinta
yang begitu panjang menegangkan yang engkau
tulis tak sampai dalam satu tarikan nafas
membuat kami terus menangis terisak tersedu
membaca gugusan kata-kata hancur berserak dengan
tubuh dan nyawa terlunta-lunta

Surat cinta yang bercerita tentang tanah darat
laut udara sebagai ungkapan rindumu yang membuat
kami malu kami tau inilah surat cintamu yang
telah engkau janjikan itu dan telah kami terima
saat mata hati dan perasaan kami menjauh fana

Ya Allah
inikah surat cintamu dengan segala
keputusan yang harus kami terima selain bencana
korupsi yang nyaris membuat kami hilang akal
dan putus asa surat cinta yang kertasnya
lembab di tangan kesedihan tak berkira dengan
torehan luka maha dalam
surat cinta yang bercerita tentang hujan dan panas
surat cinta yang bercerita tentang air berwajah
beringas dengan lidah api dari laut lepas surat
cinta yang bercerita tentang angkasa dan
burung-burung meranggas
surat cinta yang bercerita tentang pohon-pohon
dan akar yang dikelupas
surat cinta yang bercerita tentang tanah pasir
dan lendir panas
surat cinta yang bercerita tentang tanah
rumah dan nyawa yang hilang nafas

Ya Allah
inikah surat cintamu yang penuh cemburu itu
yang dikirim peniup seruling sejatimu
disaat kami lupa mengingat dan merayumu
surat cinta yang memang sepatutnya kami terima
sebagai bukti bahwa kau benar-benar maha
mencintai sementara kami berpaling dari kemaha
asih dan sayangmu

Ya Allah
maafkanlah kami yang telah berselingkuh dari
kemaha setiaanmu dan berpaling ke cinta yang
tak kau ridhoi dengan menabur fitnah hasut dan
saling ingin menguasai tanah sekerabat sedarah
seurat tanah yang kau ciptabentang tegakkan urat
yang kau sebarsuburkan dan darah yang kau
alirhidupkan telah kami
rusak dengan saling mencacah menumbuk
penuh takabur dengan kekuatan
kerakusan dan keserakahan
tapi kini apa yang kami cintai itu telah
engkau ratakan dengan tanah harta tahta
dan dunia berubah runta darah daging dan tulang
membusuk dimana-mana

Sekarang kami tak tau di mana ayah di mana
ibu di mana anak di mana adik di mana kakak
di mana ipar di mana keponakan di mana
saudara famili kerabat dan handai tauland
di mana di mana di mana yatim kan kami titipkan

Ya Allah
hari ini kami baru sadar akan jalan pulang
setelah membaca surat cintamu yang panjang
menegangkan surat cinta yang mengingatkan kami
untuk bertandang menemu cahya menemu gulita
menemu alfa menemu cinta

Surat cinta yang mengajarkan kami untuk
pulang ke bilik ke latifa ke bilik ke sadik
ke bilik baqa
ya Allah
ampunilah kami hamba-hambamu yang tak punya
malu ini ampunilah ampunilah ampunilah kami
ya Allah

Orang kita


Perdana Menteri Singapore, Lee Hsien loong, berkunjung ke Indonesia.
Di pelabuhan udara, Presiden SBY menyambutnya gembira, kemudian duduk bersama di dalam mobil kehormatan.
Selama di perjalanan, dengan bangga SBY menunjuk kepada ribuan orang yang berdiri di pinggir jalan, yang telah dipersiapkan sebelumnya, sambil mengibar ngibarkan bendera Singapura dan Indonesia.
Tapi Lee mengerutkan keningnya.
“Banyak sekali pengangguran di negara Anda,” kata Lee Hsien loong, “Di negara kami tak seorang pun mau membuang-buang waktunya seperti itu.
Mereka bekerja, dan tak punya waktu berdiri di pinggir jalan.”
Mendongkol hati SBY mendengarkannya.
Begitu lee pulang, ia menyusun rencana untuk berkunjung ke Singapore, ingin membuktikan apakah benar tak ada pengangguran di Singapore.
Beberapa hari kemudian, SBY dan rombongan tiba di Singapore.
Lee Hsien Loong menyambutnya di pelabuhan udara dan bersama-sama menuju istana negara.
Di sepanjang jalan, tak seorangpun yang berdiri di pinggir jalan menyambut mereka.
“Anda lihat,” celetuk Lee, “Tak ada yg menganggur.” Keesokan harinya,
SBY bersama ajudannya mengelilingi kota di Singapore.
Tak seorang pun penganggur yang mereka temui.
Setelah beberapa hari mencari dengan sia-sia, akhirnya mereka bermaksud pulang kembali ke Indonesia.
Dengan ditemani Lee mereka menuju pelabuhan udara. Tiba-tiba, tampak seorang lelaki duduk termenung di pinggir jalan.
“Itu dia!” teriak SBY, “Kita berhasil menemukannya seorang!” Dia menyuruh ajudannya menghampiri orang tersebut.
Tak lama kemudian ajudannya kembali sambil berlari-lari.
“Pak…Pak!” teriaknya, “Dia Nazarudin Pak, orang kita juga!” X_X X_X,.??°•w?\=D/w?•°=D°•w?=))w?•°

Manakib ibnu athoillah,pengarang kitab Alhikam

Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho’ al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa’ribah.

Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H. Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’ dalam kitabnya “Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: “Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.

Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Sholihin Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya.

Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya. Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”.

Pada akhirnya Ibn Atho’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa: Masa pertama Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah.

Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.

Masa kedua Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama’ tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini. Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan.

Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf. Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.

Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi. Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir.

Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”. Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin.

Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”. Masa ketiga Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia.

Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT. Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.

Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar. Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali.

Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”. Karya Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho’ meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah. Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama Hikam, yang telah diberikan komentar oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Kitab ini dikenali juga dengan nama al-Hikam al-ata’iyyah untuk membezakannya daripada kitab-kitab lain yang juga berjudul Hikam.

Karomah Ibn Athoillah Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka”. Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.

Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketika mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia.Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.

Wafat Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.

SEO Reports for lobbypuisi.blogspot.com